A. Aspek
Sosial Budaya Perkawinan
Perkawinan
merupakan wujud menyatukan dua sijoli ke dalam satu tujuan yang sama. Salah
satu tujuan perkawinan adalah mencapai kebahagiaan yang langgeng bersama
pasangan hidup. Namun, jalan menuju kebahagiaan tak selamanya mulus. Banyak
hambatan, tantangan, dan persoalan yang terkadang menggagalkan jalannya rumah
tangga. Perbedaan latar sosial, budaya, ataupun faktor lainnya merupakan
penyebab munculnya hambatan dan konflik dalam proses komunikasi dalam membina hubungan
perkawinan, sebab karakter tiap individu berbeda-beda antara satu dengan yang
lainnya sehingga hal itu dapat berpengaruh pada cara pandangnya. Dalam aspek
sosial budaya perkawinan, ada faktor pendukung dan penghambat.
Faktor
pendukung keberhasilan penyesuaian perkawinan mayoritas subjek terletak dalam
hal saling memberi dan menerima cinta, ekspresi afeksi, saling menghormati dan
menghargai, saling terbuka antara suami dan istri. Hal tersebut tercermin pada
bagaimana pasangan suami-istri menjaga kualitas hubungan antar pribadi dan
pola-pola perilaku yang dimainkan oleh suami maupun istri, serta kemampuan
menghadapi dan menyikapi perbedaan yang muncul, sehingga kebahagiaan dalam
hidup berumah tangga akan tercapai.
Faktor penghambat yang
mempersulit penyesuaian perkawinan mayoritas subjek terletak dalam hal baik
suami maupun istri tidak dapat menerima perubahan sifat dan kebiasaan di awal
perkawinan, suami maupun istri tidak berinisiatif menyelesaikan masalah, perbedaan
budaya dan agama di antara suami dan istri, suami maupun istri tidak tau peran
dan tugasnya dalam rumah tangga. Hal tersebut tercermin pada bagaimana pasangan
suami istri menyikapi perubahan, perbedaan, pola penyesuaian yang dimainkan dan
munculnya hal-hal baru dalam perkawinan, yang kesemuanya itu dirasa kurang
membawa kebahagiaan hidup berumah tangga, sehingga masing-masing pasangan gagal
dalam menyesuaikan diri satu sama lain.
B. Aspek
Sosial Budaya Kehamilan
Selain
menimbulkan kebahagiaan bagi wanita dan pasangannya, kehamilan juga dapat
menimbulkan kekhawatiran pada wanita pada trimester 1, 2 dan 3. Dengan
menerapkan manajemen asuhan kebidanan diharapkan bidan memperhatikan kebutuhan
dasar manusia dalam aspek bio-psiko-sosial-budaya dan spiritual. Tingkat
kebutuhan tiap individu berbeda-beda.
Masa kehamilan dan persalinan pada manusia dideskripsikan oleh Bronislaw
Malinawski (1927) sebagai fokus perhatian yang sangat penting dalam kehidupan
masyarakat. Ibu hamil dan yang akan bersalin dilindungi secara adat, religi dan
moral atau kesusilaan berdasarkan tujuan untuk menciptakan keseimbangan fisik
antara ibu dan bayi, serta terutama untuk mencapai kesejahteraan dan
kebahagiaan. Kondisi tersebut dihadapkan pada kenyataan adanya trauma
persalinan dalam masyarakat, yang mengakibatkan ansietas pada ibu hamil
(Malinowski, 1927)
Terlepas
dari sudut pandang masyarakat tentang
masa kehamilan dan persalinan yang kritis, terdapat berbagai pandangan budaya
(tuntutan budaya), serta faktor-faktor sosial lainnya dalam kepentingan
reproduksi. Hal tersebut meliputi:
1.
Keinginan ideal
perorangan untuk memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu.
2.
Mengatur waktu
kelahiran.
3.
Sikap menerima tidaknya
kehamilan.
4.
Kondisi hubungan suami
istri.
5.
Kondisi ketersediaan
sumber social.
6.
Pengalama perorangan
mengatasi dan menghadapi komplikasi persalinan dan lain-lain.
Berbagai pandangan budaya dan faktor-faktor
sosial tersebut dapat menjadi stressor yang mendukung pandangan bahwa masa
hamil dan bersalin dianggap kritis dan mengakibatkan kekhawatiran bagi warga
masyarakat. Pada masa kehamilan dan saat menjelang kelahiran, aspek financial
juga dapat menjadi masalah jika ibu hamil dan pasangannya belum bekerja,
berhenti bekerja, atau dengan penghasilan yang kurang. Ibu hamil mungkin
tinggal di rumah kontrakan yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan dalam
lingkungan kumuh sehingga membuat ibu rentan terhadap kekurangan gizi pada masa
kehamilan. Dalam setiap masyarakat ada mitos atau kepercayaan tertentu yang
sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial budaya dan adat istiadat tertentu,
seperti mitos “mitoni” :
1.
Tidak boleh
makan makanan yang berbau amis.
2.
Tidak boleh
mempersiapkan keperluan untuk bayi sebelum lahir.
3.
Ayah yang bekerja
sebagai pencari nafkah berhak mendapat jumlah makanan yang lebih banyak dan
bagian yang lebih baik dari pada anggota keluarganya yang lain.
4.
Anak laki-laki diberi
makan lebih dulu dari pada anak perempuan dan lain sebagainya.
Yang menentukan kuantitas, kualitas, dan
jenis-jenis makanan yang seharusnya dan tidak seharusnya dikonsumsi oleh
anggota-anggota suatu rumah tangga, sesuai dengan kedudukan, usia jenis
kelamin, dan situasi-situasi tertentu. Walaupun pola makan ini sudah menjadi
tradisi atau kebiasaan, yang paling berperan mengatur menu setiap hari dan
mendistribusikan makanan kepada keluarga adalah ibu. Dengan kata lain, ibu
mempunyai peran sebagai gate-keeper
keluarga.
C. Aspek
Sosial Budaya Persalinan
Persalinan
normal adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang
telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir secara
spontan dengan presentasi belakang kepala dan tanpa komplikasi.
Persalinan/partus dibagi menjadi 4 kala, yaitu kala I, II, III, dan IV.
1.
Kala I
Periode
persalinan ini dimulai dari pembukaan 1 cm sampai 10 cm (lengkap). Dalam kala
ini ada beberapa fase, yaitu :
a.
Fase laten : pembukaan
servik kurang dari 3 cm, servik membuka perlahan selama fase ini dan biasanya
berlangsung tidak lebih dari 8 jam
b.
Fase aktif : kontraksi
di atas 3 kali dalam 10 menit, lama kontraksi 40 detik atau lebih dan mulas,
pembukaan dari 4 cm sampai 10 cm (lengkap) dan terdapat penurunan bagian
terbawah janin.
2.
Kala II
Periode
ini dimulai dari ketika pembukaan lengkap sampai lahirnya seluruh tubuh janin.
Tanda dan gejala persalinan kala II meliputi :
a.
Ibu ingin mengejan.
b.
Perineum menonjol.
c.
Vulva dan anus membuka.
d.
Meningkatnya
pengeluaran darah dan lender.
e.
Kepala telah turun
didasar panggul.
Diagnosis pasti persalinan kala II
adalah bila saat dilakukan pemeriksaan dalam didapatkan pembukaan serviks
lengkap dan kepala bayi terlihat pada introitus vagina.
3.
Kala III
Periode
ini dimulai sejak bayi lahir sampai plasenta lahir. Normalnya pelepasan
plasenta berkisar 15-30 menit setelah bayi lahir. Pada persalinan kala III
miometerium akan berkontraksi mengikuti berkurangnya ukuran rongga uterus ini
menyebabkan pula berkurangnya ukuran tempat pelekatan plasenta. Karena tempat
pelekatan menjadi kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah, plasenta akan
terlepas dari dinding uteri. Setelah lepas, plasenta akan turun ke segmen bawah
rahim.
Tanda-tanda
pelepasan plasenta meliputi:
a.
Bentuk uterus globuler.
b.
Tali pusat bertambah
panjang (tanda afeld).
c.
Semburan darah
tiba-tiba.
Cara pelepasan plasenta ada dua, yaitu:
a.
Cara Schultze
Pelepasan
dimulai pada bagian tengah plasenta dan terjadi hematoma retroplasentae yang
selanjutnya mengangkat plasenta dari dasarnya. Plasenta dengan hematoma di
atasnya sekarang jatuh ke bawah dan menarik lepas selaput janin. Bagian
plasenta yang tampak pada vulva adalah permukaan fetal, sedangkan hematoma
sekarang berada dalam kantong yang berputar balik. Pada pelepasan secara Schultze
tidak ada pendarahan sebelum plasenta lahir atau sekurang-kurangnya terlepas
seluruhnya. Baru seluruh plasenta lahir darah banyak mengalir.
b.
Cara Ducan
Pelepasan
dimulai dari tepi plasenta. Darah mengalir antara selaput janin dan dinding
rahim, jadi pendarahan sudah ada sejak sebagian dari plasenta lepas dan terus
berlangsung sampai plasenta lepas secara keseluruhan. Pelepasan secara Ducan
sering terjadi pada plasenta letak rendah.
4.
Kala IV
Periode
ini dimulai setelah lahinya plasenta sampai 1 jam setelah itu. Pemantauan pada
kala IV meliputi:
a.
Kelengkapan plasenta dan selaput ketuban,
b.
Perkiraan pengeluaran
darah,
c.
Laserasi atau luka
episiotomy pada perineum dengan pendarahan aktif, dan
d.
Keadaan umum serta
tanda-tanda vital ibu
Memasuki masa persalinan merupakan suatu
periode yang kritis bagi para ibu hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi
sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Di daerah pedesaan,
kebanyakan ibu hamil masih mempercayai dukun beranak untuk menolong persalinan
yang biasanya dilakukan di rumah. Data survey kesehatan rumah tangga tahun 1992
menunjukkan bahwa 65% persalinan ditolong oleh dukun beranak. Beberapa
penelitian yang pernah dilakukan mengungkapkan bahwa masih terdapat praktek
persalinan oleh dukun yang dapat membahayakan ibu.
Pemilihan dukun beranak sebagai penolong
persalinan pada dasarnya disebabkan oleh beberapa alasan antara lain:
1.
Dikenal secara dekat.
2.
Biaya murah.
3.
Mengerti dan dapat
membantu dalam upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran anak.
4.
Dapat merawat ibu dan
bayi sampai 40 hari di samping akibat keterbatsan jangkauan pelayanan kesehatan
yang ada.
Interaksi antara kondisi kesehatan ibu
hamil dengan kemampuan penolong persalinan sangat menentukan hasil persalinan
yaitu kematian atau bertahan hidup. Secara medis, penyebab klasik kematian ibu
akibat melahirkan adalah pendarahan, infeksi dan ekslamsia (keracunan
kehamilan). Kondisi-kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan
profesional dapat berakibat fatal bagi ibu dan proses persalinan. Namun,
kefatalan ini sering terjadi tidak hanya karena penanganan yang kurang baik tetapi, juga karena ada faktor
keterlambatan pengambilan keputusan dalam keluarga. Umumnya, di daerah
pedesaan, keputusan perawatan medis yang akan dipilih harus dengan persetujuan
kerabat yang lebih tua atau keputusan ada di tangan suami yang sering kali
menjadi panic melihat keadaan kritis yang terjadi. Kepanikan dan ketidak tahuan
akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang
seharusnya dilakukan secara cepat. Tidak jarang pula nasihat yang diberikan
oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil.
Selain itu, sering kali kondisi tersebut
diperberat oleh faktor geografis, karena jarak rumah ibu dengan tempat
pelayanan kesehatan cukup jauh, tidak tersedianya transportasi, atau kendala
ekonomi dan adanya tanggapan bahwa membawa ibu ke rumah sakit akan membutuhkan
biaya yang mahal. Selain faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan,
faktor geografis dan faktor ekonomi, keterlambatan mencari pertolongan
disebabkan juga sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan
takdir yang tidak dapat dihindari. Selain pada masa hamil, pantangan atau
anjuran masih diberlakukan juga pada masa pasca persalinan.
Pantangan atau anjuran yang berkaitan dengan proses pemulihan kondisi
fisik misalnya:
1.
Ada makanan tertentu
yang sebaiknya dikonsumsi untuk memperbanyak produksi ASI
2.
Ada makanan tertentu
yang dilarang karena dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi.
Secara tradisional ada praktik-praktik
yang dilakukan dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan
ibu. Misalnya;
1.
Mengurut perut yang
bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi semula.
2.
Memasukkan
ramuan-ramuan seperti daun-daunan ke dalam vagina dengan maksud untuk membersihkan darah dan cairan
yang keluar karena proses persalinan.
3.
Member jamu tertentu
untuk memperkuat tubuh (Iskandar et al, 1996).
D. Aspek
Sosial Budaya Masa Nifas
Masa
nifas adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat
kandungan kembali seperti sebelum hamil, lama masa nias yaitu 6-8 minggu
(Rustam Mochtar, 1998, hal. 115). Tujuan perawatan masa nifas yaitu:
1.
Memulihkan kesehatan
umum penderita,
2.
Mendapatkan kesehatan
emosi yang stabil,
3.
Mencegah terjadinya
ineksi dan komplikasi,
4.
Memperlancar
pembentukan ASI, dan
5.
Agar penderita dapat
melaksanaan perawatan sampai masa nifas selesai dan memelihara bayi dengan
baik.
Keadaan psikologis pada masa nifas
meliputi insting keibuan, yang merupakan perasaan dan dorongan yang dibawa
sejak manusia dilahirkan, yang ada dalam seorang wanita untuk menjadi seorang
ibu yang selalu memberi kasih sayang kepada anaknya. Sikap ini berada dengan
sikap pria dewasa. Walaupun mereka menyukai anak bayi, tetapi pendekatannya
berbeda dengan wanita. Reaksi ibu setelah melahirkan ditentukan oleh
tempramennya. Bila ibu bertempramen gembira, ibu biasanya menjadi ibu yang
lebih sukses, sedangkan ibu yang selalu murung kemungkinan mengalami kesulitan
dalam tugasnya sebagai seorang ibu. Selain itu, kemungkinan pula timbul reaksi
kecemasan reaksi kekecewaan karena kedatangan bayinya belum diharapkan. Untuk
mengadakan penyesuaian tersebut kemungkinan ibu dapat mengatasinya sendiri atau
memerlukan bantuan. Oleh karena itu, tugas bidan untuk memberi bantuan yang
merupakan bimbingan agar ibu dapat mengatasi masalahnya. Kebutuhan ibu masa
nifas meliputi:
1.
Kebutuhan fisik,
Selama
hamil umumnya menurun walaupun tidak sakit. Untuk memenuhi kebutuhan fisik
seperti istirahat, makanan yang bergizi, lingkungan bersih dilakukan pengawasan
dan perawatan yang sempurna serta pengertian dari lingkungan setelah ibu pulang
nanti.
2.
Kebutuhan psikologis.
Kebutuhan
bagi tiap-tiap individu bahwa manusia butuh diakui, dihargai, diperhatikan oleh
manusia lain. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan psikologis, bidan dan
keluarga harus bersikap dan bertindak bijaksana dan menunjukan rasa simpati dan
menghormati.
3.
Kebutuhan sosial,
Ibu
dipenuhi dengan memfasilitasi pasangan atau keluarga mendampingi ibu bila
murung, menunjukkan rasa saying pada bayi, memberi bantuan dan pelajaran yang
dibutuhkan untuk mengembalikan kesehatannya.
E. Aspek
Sosial Budaya Terkait Bayi Baru Lahir
Bayi
baru lahir adalah bayi baru lahir dari kehamilan yang aterm (37-42 minggu).
Bayi baru lahir yang dilahirkan dalam kondisi normal mempunyai cirri-ciri
sebagai berikut:
1.
Berat badan
2500-4000gram.
2.
Panjang badan 48-52 cm.
3.
Lingkar badan 30-38 cm.
4.
Lingkar kepala 33-35 cm.
5.
Bunyi jantung dalam
menit pertama kira-kira 180 denyut/menit kemudian menurun sampai 120-160
denyut/menit.
6.
Pernafasan pada menit
pertama kira-kira 80 kali/menit kemudian menurun sampai 40 kali/menit.
7.
Kulit kemerah-merahan
dan licin karena jaringan subkutan terbentuk dan diliputi verniks kaseosa.
8.
Rambut lanugo tidak
terlihat, rambut tampak sempurna.
9.
Kuku agak panjang dan
lemas.
10. Pada bayi laki-laki Testis sudah turun, pada
bayi perempuan genetalia labia mayora telah menutupi labia minora.
11. Reflek
hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik.
12. Reflek
moro sudah baik, bayi dikagetkan akan memperlihatkan gerakan tangan seperli
memeluk.
13. Reflek
Graff sudah baik, bila diletakkan suatu benda ke telapak tangan maka akan
menggenggam.
14. Eliminasi,
urine dan mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama (Saifuddin, 2006)
Beberapa aspek sosial budaya yang
dilakukan dikalangan masyarakat Indonesia terkait dengan bayi baru lahir,
antara lain:
1.
Bayi harus memakai
gurita supaya perutnya tidak membuncit.
2.
Bayi dibedong supaya
tidak mudah terkejut, juga dapat menghangatkan badannya.
3.
Bayi saat dimandikan
ditarik-tarik hidungnya agar menjadi lebih mancung.
4.
Ari-arinya harus dicuci
bersih sebelum di kubur supaya bau badan tidak bau nantinya.
5.
Ibu tidak boleh
membiasakan duduk dalam posisi tidur waktu menggendong bayi agar dahi bayi
tidak maju (jenong atau nonong).
6.
Bayi baru lahir diberi
minum grape water agar perutnya tidak kembung.
7.
Bayi baru lahir
diberikan minum kopi setets agar tidak terkena penyakit stroke.
8.
Bayi baru lahir rambutnya
dipotong atau di botakin dan diberi minyak kemiri atau lidah buaya agar
rambutnya tumbuh cepat dan hitam.
9.
Bayi cegukan diberi
tisu basah atau kertas dibasahi di kening agar cegukannya hilang.
10. Sapu
lidi atau bangle bumbu dapur ditaruh di sebelah bantal untuk mengusir hantu
jahat.
11. Bulu
mata di gunting agar lentik.
12. Dagu
lancip akibat sering ditarik.
13. Di
bawah bantal bayi ditaruh gunting lipat dan di tempat tidurnya dipukul-pukul
menggunakan sapu lidi agar bayi tidur nyenyak.
14. Bayi
yang baru lahir tidak boleh difoto agar tidak menjadi narsis ketika dewasa.
15. Bayi
tidak boleh diajak keluar rumah sebelum berusia 40hari.
16. Terkait
makanan pada bayi baru lahir, ibu dilarang makan pedas, nanti feses bayi ada cabe
rawit utuh, padahal maksudnya adalah mencegah bayi mengalami sakit perut jika
ibu menggonsumsi makanan pedas, makan semangka menyebabkan perut bayi besar dan
keras sebab “sawan” semangka dan sebagainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar